Foto: Suasana kerja di sebuah studio arsitektur © IE University

Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Arsitek yang telah disahkan beberapa waktu lalu, untuk bisa menjadi seorang arsitek di Indonesia diharuskan memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek. Salah satu syarat untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi yaitu dengan mengikuti program magang paling singkat selama dua tahun bagi para lulusan program pendidikan Arsitektur. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai salah satu pihak yang cukup berperan dalam terwujudnya UU sebelumnya juga telah menetapkan ketentuan magang bagi para sarjana arsitek yang ingin mendapatkan sertifikasi arsitek di Indonesia.

Pada dasarnya, kegiatan magang bertujuan untuk memenuhi 13 kompetensi arsitek yang tercantum pada Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga IAI (AD/ART IAI). Ketiga belas kompetensi ini merupakan kualifikasi yang diharapkan dimiliki oleh arsitek di Indonesia. Selain IAI, International Union of Architect (UIA) juga mensyaratkan minimal dua tahun pengalaman magang untuk para lulusan arsitek yang ingin mendapatkan sertifikasi arsitek dari UIA.

Pengalaman magang tidak semata-mata untuk mendapatkan lembar sertifikat profesi arsitektur, namun magang memang diperlukan sebagai sebuah persiapan sebelum terjun langsung dan berpraktik sebagai arsitek di kemudian hari. Ada tiga alasan kuat mengapa seorang lulusan arsitektur harus memiliki pengalaman magang sebelum ia memutuskan untuk mendalami profesi sebagai arsitek:

1.     Melengkapi ilmu yang tidak didapatkan di bangku pendidikan formal

Di masa perkuliahan, arsitek mempelajari cukup banyak pelajaran seperti teknologi bangunan, tektonika, fisika bangunan, dan juga proporsi bentuk. Namun setelah terjun ke ranah profesional, ternyata pemahaman terhadap pelajaran tersebut belum cukup. Masih ada banyak hal yang perlu dipelajari untuk memulai karir sebagai seorang arsitek profesional. Berikut contoh kemampuan yang tidak didapatkan selama mengenyam pendidikan arsitektur di bangku kuliah, tetapi bisa didapatkan dengan mengikuti program magang:

a.  Cara menghadapi klien dalam sebuah biro arsitektur

Berbeda dengan tugas studio perancangan di bangku kuliah, perancangan di biro arsitektur memiliki klien yang tentu tidak fiktif. Selama magang, Anda bisa mempelajari bagaimana arsitek senior di biro tersebut menghadapi klien dengan berbagai macam background yang berbada-beda. 

b.  Cara berkoordinasi dengan kontraktor ketika mengerjakan sebuah proyek

Di biro arsitektur yang sesungguhnya, sebuah proses perancangan pasti akan bersinggungan dengan pihak lain, salah satunya kontraktor. Sebagai calon arsitek yang belum pernah bertemu kontraktor sebelumnya, Anda bisa mengamati bagaimana arsitek senior berkoordinasi dengan pihak-pihak eksternal untuk mewujudkan desain rancangannya.

c.  Bekerja dalam sebuah team

Pekerjaan merancang di studio lebih banyak dilakukan secara teamwork. Hal ini akan melatih skill kerja sama Anda yang mungkin sudah lama tidak di asah selama mengerjakan tugas studio di bangku kuliah.

Arsitek dituntut untuk dapat bekerja dalam tim

Foto: Arsitek dituntut untuk dapat bekerja dalam tim © startupstockphotos

d.  Menjalin hubungan yang baik dengan banyak pihak

Bertemu wajah-wajah baru merupakan sebuah keuntungan tersendiri yang akan didapatkan saat mengikuti program magang. Menjalin hubungan yang baik dengan orang baru di lingkungan yang juga baru merupakan sebuah kesempatan besar bagi Anda untuk memperluas networking.

e.  Bekerja sesuai deadline

Ketika menangani sebuah proyek nyata, dunia profesional arsitek tidak mengenal toleransi terhadap deadline. Keterlambatan pekerjaan bisa berakibat fatal, dan tentunya dapat merugikan klien. Hal ini bisa melatih Anda untuk lebih patuh terhadap deadline yang telah disepakati sebelumnya. 

f.   Manajemen waktu yang baik

Melatih diri untuk mengatur waktu dengan baik juga bisa Anda lakukaan saat menjalani magang. Dengan beban kerja sedemikian rupa dan sederet deadline-nya, tidak berarti kegiatan sehari-hari Anda harus terganggu, bukan?

2.     Kesempatan unjuk kebolehan kompetensi arsitektur di ranah professional

Selama menjalani program magang, calon arsitek bisa mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh selama masa kuliah. Bisa jadi, kemampuan calon arsitek yang bermagang diapresiasi oleh arsitek senior di biro tersebut dan akhirnya dikenal baik. Hal ini dapat berujung pada banyak hal, misalnya direkrut sebagai arsitek pada biro yang menjadi harapan tempat Anda bekerja, atau malah dikenalkan oleh kenalan arsitek senior yang dapat memperluas network Anda.

3.     Banyak arsitek-arsitek ternama yang memulai karirnya dengan magang

Salah satu contoh arsitek yang mengawali karir mereka dengan magang yaitu arsitek muda Denny Setiawan. Dalam acara ARCHINESIA Academy di Jakarta beberapa saat lalu, ia membagi pengalamannya ketika magang di biro arsitektur milik Ahmad Djuhara. Denny merasa bahwa pelajaran yang ia dapat selama di sana merupakan modal yang sangat besar untuk membuat biro sendiri. Banyak hal yang tidak pernah beliau dapatkan di bangku kuliah justru diperoleh dari pengalaman magang tersebut. Ia belajar bagaimana bersikap sesuai posisi masing-masing dalam suatu proyek. Bagaimana seorang prinsipal bersikap, bagaimana seorang pimpinan bersikap, bagaimana seorang karyawan bersikap, dan lain sebagainya. Pelajaran ini lah yang kelak ia terapkan saat ia sudah memiliki biro arsitektur sendiri.

Selain Denny Setiawan, ada juga Bjarke Ingels, salah seorang arsitek mancanegara pendiri dari Bjarke Ingels Groups atau lebih dikenal dengan BIG. Sebelum mendirikan BIG, Ingels memang sudah mengidolakan Rem Koolhas, salah satu pendiri biro OMA, sejak masih duduk di bangku sekolah. Ia memutuskan untuk mengikuti program magang di OMA dan mempelajari banyak hal. Salah satu pembelajaran yang paling berkesan bagi Ingels yaitu bagaimana cara paling efektif untuk menyampaikan ide desain kepada klien. 

.

Itulah beberapa alasan yang mengharuskan seorang lulusan arsitektur untuk menjalani program magang terlebih dahulu, sebelum akhirnya menjadi seorang arsitek profesional. Memang tidak ada yang instan dalam perjalanan merintis karir, termasuk karir berarsitektur. Dibutuhkan keteguhan dan ketekunan dalam memupuk bekal sebelum menjadi seorang arsitek besar dan salah satu langkah awalnya yaitu dengan magang.

Penulis: Raudina Rachmi

Showcase portfolio and let more people know about your company!

You May Also Like

Panduan Jitu Mengatur Struktur Organisasi Biro Arsitektur

Sebuah biro arsitekur pasti memiliki staf yang bekerja di dalamnya. Semakin besar sebuah biro arsitektur, maka akan lebih banyak pula staf yang dimilikinya. Pada biro yang sudah berukuran besar, pekerjaan masing-masing staf juga akan semakin spesifik. Semua staf yang ada dalam biro arsitektur, baik jumlahnya sedikit atau banyak, tetap harus diorganisasikan. Dengan membuat sebuah struktur organisasi, setiap staf akan memahami tugas pokoknya masing-masing sehingga overlapping pekerjaan dapat diminimalisir dan kinerja biro akan semakin efektif. Selain itu dengan adanya struktur organisasi, jalur koordinasi dan garis komando antar staf dalam biro juga akan semakin jelas.

20 October 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio

4 Jenis Klien yang Akan Anda Hadapi Sebagai Arsitek

Sebagai seorang arsitek, pasti Anda akan mendapatkan berbagai jenis proyek desain bangunan bersama dengan kliennya masing-masing untuk ditangani. Perlu Anda ketahui bahwa setiap klien tidak akan sama dengan klien yang lain. Walaupun tidak akan ada klien yang sama persis, klien bisa dikelompokkan secara garis besar berdasarkan status dan kemungkinan proyek yang ditawarkan. Pengelompokan ini berguna bagi Anda untuk menentukan bagaimana Anda bersikap dan membawa diri di hadapan klien tersebut.

16 October 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio

5 Hal yang Harus Diperhatikan Arsitek Saat Menyusun CV

Apakah Anda sedang melamar pekerjaan di biro arsitektur? Bagi sarjana lulusan jurusan arsitektur yang sedang mencari pekerjaan atau arsitek yang berencana untuk bekerja di biro arsitektur lain, tentu telah mempersiapkan curriculum vitae (CV). Apa sebenarnya makna dari “curriculum vitae”? Berdasarkan akar latin-nya, curriculum vitae memiliki makna course of life. Artinya, CV Anda harus memuat pengalaman yang Anda pernah jalani. Ketika sebuah biro meminta CV dalam proses perekrutan, informasi yang dibutuhkan adalah data pengalaman karier dari pelamar kerja. Hal ini penting dipahami oleh arsitek pelamar kerja, supaya seluruh informasi yang ada dalam CV relevan dengan kebutuhan biro arsitektur tempat ia melamar pekerjaan.

9 October 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio

6 Kriteria Klien Dalam Memilih Arsitek

Mendapatkan proyek dari seorang klien merupakan suatu hal yang diharapkan terus terjadi dalam keberlangsungan sebuah biro arsitektur. Untuk itulah arsitek pasti akan selalu meningkatkan kualitas desain dan pekerjaannya agar kepercayaan klien dapat tetap terjaga. Sering kali karena terlalu fokus pada pekerjaannya, banyak arsitek kurang menyadari apa yang dicari klien pada diri seorang arsitek.

6 October 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio