Foto: ©Samuel Zeller, stocksnap

Memiliki keahlian dalam menggunakan software seperti AutoCAD dan SketchUp adalah hal yang wajib dan lumrah bagi seorang arsitek. Arsitek juga harus memiliki wawasan yang luas sehingga dapat menyetarakan diri dengan klien-klien yang ditemuinya. Dengan kata lain, arsitek dibentuk dan dididik minimal untuk memiliki kemampuan-kemampuan tersebut. Namun dalam masa perkuliahan, ada hal-hal yang tidak pernah diajarkan kepada arsitek yaitu soft skills. Bahkan ketika masuk ke dalam dunia kerja pun, pembelajaran soft skill sering kali diabaikan, atau tidak didorong untuk dipelajari. Padahal, soft skill adalah hal yang penting dalam dunia kerja arsitek.

Pertanyaannya, apa yang dimaksud sebagai soft skills? Menurut Collins English Dictionary, soft skills adalah kualitas yang diharapkan dimiliki oleh seseorang yang tidak bergantung pada tingkat pengetahuan, termasuk di dalamnya adalah daya nalar, kemampuan untuk menghadapi orang lain, dan sikap yang positif. Mengapa soft skills penting bagi arsitek? Karena arsitek adalah pekerjaan jasa yang sebagian besar waktu kerjanya dihabiskan berhadapan dengan orang lain sekaligus membutuhkan pengetahuan yang luas—berbeda dengan ilmuwan yang bisa jadi hanya fokus pada penelitiannya. Soft skills juga sangat dibutuhkan untuk membangun trust dari klien yang pada akhirnya berimbas pada sukses tidaknya arsitek dalam menjalankan praktiknya. Jadi apa saja soft skills yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi arsitek yang handal?

1.     Kepemimpinan

Kepemimpinan atau leadership saat ini merupakan kualitas atau sikap manusia yang sering didiskusikan. Sampai-sampai kelas untuk melatih kepemimpinan menjadi hal yang umum ditemui. Kepemimpinan diidentikkan dengan seorang pemimpin yang mampu memberi pengaruh yang positif kepada orang-orang yang dipimpin untuk bersama-sama melakukan sebuah kegiatan dan mencapai satu tujuan. Berikut hal-hal praktis yang bisa arsitek lakukan untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan:

a.     Mampu memberi arahan yang jelas kepada tim dalam melakukan sesuatu.

b.     Mampu membuat keputusan dan menjelaskan alasan dibaliknya.

c.     Mendengarkan pendapat orang lain—dalam hal ini anggota tim.

d.     Hadapi masalah yang timbul dalam proses.

e.     Mampu memotivasi tim melalui mentoring.


2.     Teamwork

Selain dapat menjadi pemimpin yang baik, arsitek juga harus dapat bekerja dalam sebuah tim. Arsitek harus mampu mendelegasikan pekerjaan yang ada kepada tim, alih-alih mengerjakan semuanya sendiri. Dalam sebuah proyek yang melibatkan beberapa ahli, arsitek juga diharapkan dapat menempatkan diri sebagai satu bagian dari tim yang lebih besar. Dalam tim tersebut, tentunya arsitek harus memahami bobot kerjanya. Tujuannya adalah agar setiap pekerjaan dapat terlaksana dengan baik dan tidak memperlambat atau menghalangi selesainya pekerjaan lain.

Mampu bekerja dalam tim merupakan sebuah keharusan bagi arsitek

Foto: Mampu bekerja dalam tim merupakan sebuah keharusan bagi arsitek ©Brodie Vissers, stocksnap


3.     Komunikasi

Arsitek adalah seorang komunikator. Arsitek wajib untuk mampu menyampaikan ide yang dimaksud kepada pendengar sehingga pendengar memiliki pemahaman yang sama dengan maksud arsitek. Teknik komunikasi arsitek sangat menentukan apakah arsitek akhirnya mendapatkan sebuah proyek atau tidak melalui tender yang diikuti. Komunikasi yang baik juga berguna agar arsitek dapat meyakinkan klien untuk menerima desain yang dibuat arsitek. Untuk dapat memiliki kemampuan komunikasi yang baik, arsitek harus terbiasa untuk berbicara di depan umum dan tentunya menguasai materi yang disampaikan. Melatih diri untuk menuturkan kata-kata yang tepat dan mengikuti diskursus arsitektur juga dapat membantu arsitek untuk berkomunikasi lebih baik.

Selain mampu untuk menyampaikan ide kepada klien, arsitek juga harus menjadi pendengar yang baik. Jangan menjadi arsitek yang arogan dan mengabaikan masukan-masukan dari klien dan akhirnya memaksakan ide sendiri. Bisa jadi masukan yang diberikan klien dapat menghasilkan desain yang lebih bermanfaat bagi klien sebagai pengguna. Dengan menjadi pendengar yang baik, klien juga dapat merasa dihargai dan hal ini sangat penting ketika arsitek sedang bekerja bagi klien yang bersangkutan.


4.     Networking

Salah satu cara yang paling ampuh untuk mendapatkan klien adalah melalui networking. Networking adalah proses penjalinan hubungan untuk mengenal satu sama lain secara profesional. Tanpa networking, arsitek akan kesulitan untuk menjalankan usahanya karena objek jasa arsitek adalah klien dan untuk memperoleh klien, arsitek harus memiliki kenalan. Arsitek sebenarnya telah memulai networking sejak duduk di bangku sekolah. Setiap teman-teman yang anda miliki tentunya adalah cikal bakal klien kedepannya. Itulah yang menjadi awal arsitek melakukan networking.

Networking dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan mengikuti event yang dihadiri orang banyak seperti pameran misalnya.Dengan mengikuti event tertentu, anda dapat meningkatkan exposure anda sebagai arsitek dan dengan begitu akan banyak orang yang mengenal anda. Penting untuk diketahui adalah agar arsitek tetap dapat menjaga hubungan yang baik dengan calon klien dan klien. Tidak sedikit arsitek dapat memperoleh klien baru yang dikenalkan oleh klien arsitek sebelumnya.


5.     Integritas

Seorang arsitek yang memiliki integritas berarti akan bertanggung jawab terhadap semua perkataan yang diucapkan. Bila arsitek menjanjikan untuk menyelesaikan proyek dalam satu kurun waktu, arsitek yang berintegritas wajib menyelesaikannya sebelum melewati batas waktu tersebut. Memiliki integritas juga berarti arsitek jujur dan berani mengakui kesalahan bila terjadi. Nilai-nilai dan etika juga harus senantiasa dipegang arsitek dalam melakukan praktiknya. Dengan demikian, rasa percaya klien akan muncul dan klien juga akan menghargai arsitek.


Penulis: Daniel Jiang

Showcase your portfolio and let more people know about your company!

You May Also Like

3 Masalah yang Perlu Dihindari Arsitek Dalam Menangani Proyek Korporat

Bagi arsitek, merancang proyek korporat dapat menjadi milestone yang mampu mengangkat nama biro arsitektur. Selain bergengsi, proyek korporat pada umumnya bernilai tinggi dengan skala yang besar. Pada proyek korporat, khususnya di Indonesia, proyek semacam ini melibatkan banyak pemangku kepentingan yang memiliki tujuan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Kompleksitas proyek yang tinggi memberikan beban pekerjaan yang tinggi pula dan perlu dipahami oleh arsitek, terutama bagi yang baru mulai merintis praktik profesinya.

25 September 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio

5 Tips Meningkatkan Peluang Menang dalam Mengikuti Sayembara Arsitektur

Kata sayembara pada umumnya digunakan untuk menyebutkan sebuah kompetisi dengan keterlibatan penyelenggara dalam menentukan pemenang. Dalam praktik arsitektur, sayembara merupakan hal yang sangat lumrah dilakukan. Adapun jenis-jenis sayembara arsitektur adalah seperti sayembara yang terbuka untuk umum dan sayembara yang sifatnya tertutup (hanya diikuti oleh invited architecture firm saja).

22 September 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio

4 Tips Jitu Membuat Portofolio yang Menarik Bagi Calon Klien

Sebagai salah satu marketing tools, portofolio dapat dijadikan andalan untuk mempromosikan kemampuan biro arsitektur dan menunjukkan kesiapan sebuah biro dalam menangani proyek yang akan datang. Bagi Anda yang berprofesi sebagai arsitek, portofolio akan meningkatkan bargaining position Anda di hadapan klien saat melakukan negosiasi mengenai sebuah proyek. Portofolio dapat membuka berbagai peluang bagi arsitek, mulai dari mendapatkan proyek yang sejenis, maupun proyek-proyek yang lebih menantang.

18 September 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio

5 Unsur Penting untuk Membentuk Brand Identity Biro Arsitektur

Bagi arsitek yang sedang merintis biro arsitekturnya sendiri, membentuk brand dalam biro arsitekturnya menjadi pekerjaan yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena brand dapat menunjukkan siapa Anda, apa visi Anda dalam mengembangkan praktek arsitektur dalam biro, dan bagaimana biro Anda akan dikenal. Berbeda dengan marketing yang strateginya dapat berubah sewaktu-waku sesuai kebutuhan, brand merupakan dasar yang mendefinisikan biro Anda sejak awal dibangun. Berbagai biro arsitektur terkemuka, contohnya LABO, telah membuktikan bagaimana membentuk identitas biro arsitektur sangat penting dalam membangun biro arsitektur yang sukses. Berikut ini adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh arsitek dalam membentuk brand identity dari biro arsitektur yang dimilikinya.

15 September 2017 / ARCHITECTURE / By IAAW Studio